Skip to content

Derawan

12 Oktober 2016

Tujuan liburan tahun ini adalah kepulauan Derawan yang terletak di kabupaten Berau, propinsi Kalimantan Timur. Untuk sampai ke sana dengan menggunakan pesawat terbang adalah pergi dulu ke Balikpapan. Mendarat di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman. Atau dulu waktu gue masih SD, namanya Sepinggan. Lalu dari kota itu bisa naik pesawat lagi ke Bandara Kalimarau, Tanjung Redep, yang merupakan ibukotanya kabupaten Berau atau jalan darat ke Tanjung Batu. Nah dari Tanjung Batu itulah baru menyebrang menyeberang ke Derawan. Dari Balikpapan gue memilih naik pesawat saja ke Berau, untuk menghemat waktu.

Mobil lengkap dengan supir dari Derawan Tour sudah siap menjemput di Bandara Kalimarau dan kami segera berangkat menuju Tanjung Batu. Sepanjang perjalanan kira-kira 2,5 jam (120 km) kami melewati hutan-hutan di kanan kiri jalan. Jalannya cukup bagus lah. Supirnya ramah bercerita. Iseng gue bertanya, “Kalau mau ketemu masyarakat asli Dayak dimana ya?” Di luar dugaan gue, dengan semangat dia menjawab bahwa dia pernah mengantar tamu ke perkampungan Dayak yang lokasinya tidak jauh dari Tanjung Redep. “Kalau mau lihat tariannya, bisa. Mendengarkan orang main sape (alat musik tradisional) juga bisa. Di sana juga masih ada ibu-ibu yang kupingnya panjang” Dia juga mempersilakan gue untuk melihat-lihat koleksi foto dan videonya saat ke perkampungan itu. Aha! Keren banget! Gue dan teman seperjalan langsung bisik-bisik untuk mengubah rencana perjalan kami. Perkampungan itu harus dikunjungi! Pertanyaan sambil lalu yang ternyata dapat mengubah rencana seketika…

Akhirnya kami sampai di pelabuhan. Kali ini speedboat lengkap dengan pengemudinya siap menanti. Cuma yang bikin gue ciut adalah: lho nggak dikasih jaket pelampung nih? Sudah ditanyakan ke pengemudi, dia cuek aja. Gue juga minta supaya terpalnya ditutup karena pasti akan panas ketika di tengah laut nanti. Tanggapannya: cuek juga! Begitu melihat para tamunya sudah duduk manis di belakang, si pengemudi langsung tancap gas. Speedboat terbanting-banting sepanjang perjalanan. Teriknya matahari sudah nggak dirasain karena gue lebih merasa takut. Kiri kanan, depan belakang laut semata. Luassss banget. Gue sih bisa berenang. Tapi berenang di kolam. Lha ini laut, coy! Lagi merem melek merasakan ketakutan, eeeh tiba-tiba di tengah perjalanan si bapak pengemudi mendadak menghentikan mesin. Menoleh ke belakang dan bertanya,” Mau ditutup terpalnya?” Gue langsung teriak,”Nggak usaaahhhh!! Udah jalan lagi aja!!!” Tanpa merasa bersalah, si bapak kembali menyalakan mesin. Kembali gue terbanting-banting sambil menatap nanar ke langit dan lautan. Bertanya-tanya kapan siksaan ini akan berakhir.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kira-kira 30 menit setelah bertolak dari Tanjung Batu, akhirnya samar-samar gue melihat sebentuk daratan. Senangnya melihat daratan mungkin seperti Kapten Haddock kalau ketemu whiskey. Seribu juga topan badai, akhirnya akan sampai juga! Sampai di dermaga tujuan, rasanya masih galon alias gagal move on dari rasa keder.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Setelah sampai di kamar penginapan dan taruh tas-tas bawaan, baru deh mulai menikmati sekeliling. Asik juga penginapannya, berdiri di atas laut yang jernih kehijauan.

Tour guide lalu mengajak makan siang. Di kedai, si pemilik berkata kalau sore ini ada pertandingan sepakbola antarwarga, termasuk tanding sepakbola para ibu, dalam rangka perayaan kemerdekaan RI. Hari itu tanggal 18 Agustus 2016. Gue langsung minta ke guide untuk pandu ke tempat pertandingan itu. Kesempatan bagus untuk berinteraksi dengan warga lokal dan motret-motret.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Esok paginya, bangun dan leyeh-leyeh di teras. Tau-tau ada penyu-penyu besar berenang-renang di depan teras. Ternyata setiap pagi penyu-penyu ngelayap ke wilayah penginapan. Ah, Nyu, kamu unyu deh. Tau aja kalau kami, para turis, nggak bisa dapat pemandangan semewah ini di kota kami.

20160819_065649.jpg

Tujuan perjalanan hari ini adalah pulau Maratua, pulau Kakaban, pulau Sangalaki, dan terakhir pulau …. Naik apa? Naik speedboat. Tapi kali ini bener, nih. Penumpang diberi jaket pelampung. Jadi gue adem ayem. Terpal nggak usah ditarik. Selain masih pagi (berangkat jam 8) alias matahari belum terik, juga agar lebih menikmati perjalan. Kebanting-banting? Ya pasti!

Maratua adalah resort. Tidak ada yang dapat dilihat di pulaunya, kata guide. Ada perkampungan namun tidak banyak penghuni. Jadi sampai di sana hanya menikmati keindahan hamparan laut dengan gradasi warna biru dan hijaunya – dari atas resort, lalu foto-foto. Sebenarnya kalau mau bisa melaut melihat terumbu karang di sekitar situ. Tapi gue sudah sepakat dengan teman seperjalanan yang nggak diving atau snorkeling untuk tidak membiarkan dia terayun-ayun sendirian di atas kapal. Kesempatan rehat sejenak di resort ini juga gue gunakan untuk ngobrol dengan tour guide. Dia berasal dari suku Bajau, seperti mayoritas orang-orang di kepulauan Derawan. Aslinya dia adalah nelayan, namun diajak oleh tour agency untuk belajar jadi guide. Gue tanya lebih lanjut, apa arti kata Derawan, Maratua, Kakaban, dsb, dia hanya nyengir.

20160819_093133_Pano.jpg

Dari situ lanjut ke pulau Kakaban, yang terletak di seberang. Atau sebelah ya? Pokoknya dekat lah. Pulau itu hanya ada sedikit hamparan pasir. Untuk masuk ke pulaunya, saat itu, harus memanjati karang menggunakan tangga kayu yang jangan harap ergonomis. Konon bisa juga berjalan lewat gua, tapi tampaknya saat itu lagi nggak bisa. Mungkin air masih pasang. Memanjat dan melewati karang harus hati-hati kalau nggak mau beset-beset. Tapi setelah ngesot sejenak (lho, tadi katanya nggak mau beset-beset, tapi kok sekarang katanya ngesot! Maksud gue: deket banget…) dari atas karang tampaklah di bawah sana laguna yang jernih, indah, tenang, dan damai sekali. Namanya laguna Kehe Daing. Di laguna itu terdapat juga terumbu-terumbu karang dan kerang-kerang. Guide mengingatkan untuk tidak menyentuh kerang. “Bisa menjepit,” katanya. Oke deh. Kayaknya bahaya tuh. Di pinggiran laguna ada kerang-kerang besar yang sudah kosong. Jadi inget buku-buku mitologi Yunani yang menggambarkan dewa Neptunus dengan singgasana kerang raksasa.

20160819_102119

 

Setelah itu lanjut lagi dengan speedboat menuju sisi lain dari pulau Kakaban. Untuk menuju daratan, harus naik ke dan melalui jembatan dermaga kayu yang panjang hingga menuju gerbang. Dari gerbang, masih lanjut melewati hutan untuk sampai ke danau Kakaban. Danaunya sih biasa. Yang luar biasa adalah isinya! Kalau nonton film Finding Nemo pasti ingat kalau Dory dikasih tau hati-hati kalau ketemu ubur-ubur. Bounce on the tops, not the tentacles. Nah andalan isi danau Kakaban ini adalah ubur-ubur. Bedanya, di sini tidak menyengat alias stingless jellyfish dan tidak beracun. Jujur gue belum pernah liat ubur-ubur, kecuali di film. Jadi nggak ada bayangan seperti apa nanti kalau ketemu burubur.  Guide memberikan alat snorkeling dan memandu gue berenang menjauh dari dermaga. Tau-tau dia menyelam dan ketika nongol lagi, dia letakkan di telapak tangan gue sebentuk gel halus seperti agar-agar kebanyakan air. “Ini ubur-ubur transparan.”  Wah, keren! Guide kembali menyelam. Tampaknya dia berusaha memanggil (atau menyuruh, entahlah…) ubur-ubur untuk naik ke atas. Karena nggak lama kemudian, segerombolan ubur-ubur berbagai ukuran mulai bermunculan dan menari-nari di sekitar gue. Wahahaha! Senangnya!  Saking senangnya, ubur-ubur gue elus-elus sambil bersenandung (nggak bisa nyanyi, karena kan mulut harus mengapit alat snorkel). Tambah girang ketika ada ubur-ubur yang mencium pipi dan mau diajak selfie. Aih, kelakuan kalian kok seperti hewan-hewan peliharaan di rumah sih. Gue norak? Banget! Lebih norak lagi karena mendadak sontak gue teringat video clip Nyanyian Hati-nya Chintami Atmanegara. O! Eooo…suara nyanyian hati. O!….oiiii…sudah siang nih! Rombongan lain sudah lama lenyap, cuma gue yang masih ngerumpi dengan ubur-ubur.

DSCN9988.JPG

Lanjut! Ke pulau Sangalaki. Speedboat harus diparkir jauh dari bibir pantai karena air surut, dan kali ini tidak ada dermaga. Berjalan di atas pasir putih saat siang terik seperti ini mengingatkan gue akan film-film Pirates of Caribbean. Pura-puranya gue jadi kapten Jack Sparrow. Tapi di pulau ini tidak ada bajak laut sedang ber-“yo, ho, ho and a bottle of rum” seperti di novelnya Robert Lewis Stevenson.  Sepanjang perjalanan ala ala Jack Sparrow, gue dapat melihat bintang laut tergeletak di pasir. Tapi bintang laut di sini bukan tipenya Patrick yang besar dan merah. Gue juga dapat melihat anemon, rumahnya Nemo si ikan badut. Pulau Sangalaki ini adalah tempat konservasi dua jenis penyu. Kami dapat melihat anak-anak penyu atau tukik yang diletakkan dalam baskom. Dari papan-papan informasi, gue belajar tentang penyu.

Nah, dari situ kami kembali melaut. Tour guide menjelaskan bahwa kita akan berhenti di sebuah spot, di laut, untuk melihat ikan pari manta. Pari manta ini adalah ikan besar yang kalau di film Finding Nemo, jadi bus sekolah anak-anak ikan.  Dapat melihat si bus sekolah laut ini dengan catatan: jika beruntung… Karena pari manta ini baru akan menampakkan diri apabila ada plankton, makanannya. Tunggu punya tunggu, si pari manta nggak nongol-nongol. Mungkin dia lagi antar anak-anak pulang sekolah, setelah itu baru ngemil-ngemil cantik.

Okey, dari situ lanjut ke Pulau Gusung yang letaknya dekat dengan pulau Derawan. Itu adalah lokasi terakhir dari rangkaian island hoping. Pulau ini terdiri dari pasir putih semata yang akan hilang begitu air laut pasang. Jadi sebenarnya ini adalah gundukan pasir yang terbentuk dari dorongan air laut. Enak banget nongkrong di pulau ini. Apalagi sambil mendengarkan cerita dari pengemudi speedboat. Profesi beliau sesungguhnya adalah nelayan. Lagi-lagi iseng dong gue bertanya,” Apa bapak masih bisa menggunakan bintang di langit sebagai pedoman?” Dia jawab, masih bisa! Namun, jelasnya lebih lanjut, dia juga menggunakan kompas. “Kalau anak-anak sekarang malah sudah pakai GPS”, katanya sambil menunjuk smartphonenya, “sudah nggak biasa melihat bintang.” Selanjutnya dia bercerita tantangan melaut adalah kekurangan bahan bakar. Ada peristiwa keluarga dari Filipina yang terdampar di Derawan. Orangtua yang ada dalam perahu ditemukan tewas, namun ada anak-anak atau bayi yang masih hidup. Warga Derawan menyelamatkan anak-anak / bayi itu dan sampai sekarang mereka (tentunya sudah dewasa) hidup di Derawan. “Mungkin mereka nelayan yang mau belanja waktu itu ke pulau lain, tapi lalu kehabisan bahan bakar dan kapalnya hanyut sampai sini.” Memang Filipina dekat dari sini, pak? “Dekat… Filipina, Malaysia, dekat saja. Orang kita pun juga bisa hanyut ke sana.” Waaahh…

Berhubung senja sudah datang (atau istilah sastranya: matahari hampir menjilat laut) maka kami kembali ke pulau Derawan, dan siap-siap packing untuk esok kembali ke daratan Kalimantan.

 

 

 

 

 

 

 

Kisah Sempurna tentang Ketidaksempurnaan

14 Juni 2015

It takes a village to raise a child” adalah peribahasa Afrika yang diadopsi oleh Hillary Rodham Clinton untuk menjadi judul buku yang ditulis dan dirilis pada tahun 1996. Seorang anak bertumbuh tidak hanya dalam pengasuhan sepasang orang tua atau di sebuah rumah, namun di sebuah komunitas.

Judul buku dan peribahasa itu menyeruak begitu saja di ingatan sunyi gue tatkala terbunuhnya Angeline, 8 tahun, membahana di media massa dan media sosial. Sepertinya ada eforia di media massa dan media sosial untuk mewartakan peristiwa tersebut. Beramai-ramai orang menyampaikan rasa duka mendalam dan mengutuk pelakunya yang kejam. Siapa pelakunya?

Orangtua

Ya, orangtua adalah pelaku pertama. Mereka adalah mahluk yang bertanggungjawab untuk menghadirkan anak itu di dunia ini namun ternyata tidak mampu untuk membesarkannya. Entah karena persoalan ekonomi, psikologi, sosial, dll. Karena kata teman yang pro-life, “karena aborsi bukanlah solusi yang tepat”, maka gue (yang sok-sok pro-life juga) akan mengatakan, “oleh sebab itu pikir dari awal!” Mendukung kehidupan juga harus dengan pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran. Karena pada akhirnya, apa bedanya membunuh ‘sebuah’ janin dengan ‘seorang’ anak di kemudian hari kelak?

Tetangga

Sejujurnya sih gue nggak pernah (karena tidak mau) menyimak pemberitaan tindak pidana ini. Namun karena kepo, gue sekilas mengecek (karena istilah riset terlalu cihuy kesannya) apa pendapat para tetangga. Gue temukan bahwa tetangga menyesalkan dan menuntut pelaku dihukum seberat-beratnya. Helo, kemana saja kalian selama ini? Apakah rumah dan halaman tempat tinggal si anak demikian luasnya sehingga kalian tidak mendengar, melihat, mengetahui apa yang terjadi di rumah sebelah? Eh, tampaknya gue menggunakan perspektif kampung gue di Jakarta, dimana tetangga mandi aja gue bisa tau!

Sekolah

Sahibul hikayat, gurunya pun tau bahwa anak ini kurang terawat. Mereka kerap atau beberapa kali lah memandikan si anak di sekolah karena aromanya yang tidak sedap. Konon pula, ada bekas-bekas penganiayaan di tubuh anak ini. Dan saat mengetahui si anak telah meninggal, para guru histeris. Helo, kemana saja kalian selama ini? Okey kalian telah baik hati memandikan si anak, namun terus apa? Nampaknya para guru, dan juga tetangga, dan juga masyarakat Indonesia lainnya, harus mulai melek hukum terutama Undang-Undang Perlindungan Anak No. 23 tahunnya lupa (yang ternyata sudah ada revisinya) dan hukum pidana delik aduan. Karena jika mereka mengetahui adanya tindak pidana namun tidak melaporkan, maka mereka dapat terkena pasal keturutsertaan (sambil ingat-ingat pelajaran pak Djisman, betul gak ya opini gue ini…)

Gue

Karena masih lekang dalam ingatan gue kasus Ari Hanggara (ada patungnya segala, bukan?!), kasus baru-baru ini tentang penelantaran anak oleh ayahnya yang dosen (dosen, bo!), dan sebenarnya paham bahwa masih banyak kasus penelantaran anak lainnya, tapi gue juga cuek saja dan lebih senang menyalahkan orang lain.

Masyarakat

Karena masyarakat senang menyimak berita kekerasan ini, menyebarkannya dengan gempita di media sosial (lengkap dengan foto saat jenazah ditemukan – yang kalok bisa close up-no filter-jeder!), dan menggosipkannya ke sesama kawan sambil menggeleng-gelengkan kepala dan mengucap, “kasihan ya…”, lalu dengan nada segeram-geramnya berkata, “pelakunya harus dihukum seberat-beratnya!”.

Dan dalam tempo hitungan hari semua orang serta media massa akan melupakannya. Ketika keprihatinan berhenti di kata “kasihan”, orang-orang kembali memproduksi (atau mengadopsi) anak yang tidak bisa mereka besarkan dengan layak, tetangga kembali pada etika “jangan ikut campur urusan rumah tangga orang lain”, guru kembali mengajar dan bukannya mendidik, dan gue kembali hanya menggerutu di blog. Saat itulah kita menjadi pelaku.

Baca selanjutnya…

55 tahun

16 Februari 2015
tags:

Untuk mencapai ulang tahun perkawinan ke-55 : perlu ketekunan, kebesaran hati, dan umur panjang!

20150215_200950~2 20150215_062241~2

15022015 – 55

Angka-angka yang bercermin!

Selamat ya, nyo and bo!

Di Klinik Hewan

8 Februari 2015

Sejak bulan November 2014, Tamtam si anak sulung kelinci, bisulan di keempat telapak kakinya tanpa henti. Sebagai akibatnya, gue harus bolak-balik ke sebuah klinik rawat jalan dan rawat inap serta grooming untuk hewan yang terletak di jalan Tebet Raya.

Masuk tahun 2015, intensitas ke klinik tersebut gue tingkatkan. Jadilah setiap akhir pekan pagi gue habiskan di tempat tersebut bersama ‘ibu’ dan ‘bapak’ lainnya. Namun kebanyakan mereka adalah orangtua dari kucing atau anjing. Keunikan gue sebagai ortu kelinci – dengan penyakit yang juga unik – membuat gue dan Tamtam mudah diingat oleh staff klinik tersebut. Sehingga setiap melihat gue muncul, resepsionis langsung menyambut. “Tamtam. Ke dokter, ya.”

20150207_102550[1]

Kalau sudah duduk menunggu, biasanya gue diam-diam saja sambil jaga-jaga jika ada hewan lain yang bereaksi berlebihan. Karena bisa saja pasiennya berupa anjing golden retriever yang sibuk mengendus-endus kandang-kandang portable yang berserakan di lantai. Atau anjing tipe besar lainnya yang gak henti-henti menggonggong dengan lantang. Kalau sudah begitu, gue akan segera mengusir si anjing endus untuk jauh-jauh dari kandang anak gue. Dan untuk anjing yang bawel, gue akan meniru gaya Cesar Milan. Ssshh!! Sambil berusaha menenangkan Tamtam yang gelisah di dalam kandangnya.

Karena harus sedikit waspada, biasanya gue cuek dengan ortu pasien dan hewan-hewan yang mereka bawa. Namun para ortu senang berinteraksi dengan ortu lain dan senang mengomentari hewan yang dibawa. Pertanyaan pemancingnya standar. “Sakit apa?” Yang lalu berlanjut ke perbincangan seputar perawatan anjing atau kucing. Soal komentar: dari yang standar seperti “Aduh, lucunya!” sampai ke “Anjingnya obes, tuh!” Nggak sopan, ya!

Para ortu itu biasanya menunjukkan ekspresi terkesima setiap kali tau kalo gue bawa kelinci. Tapi hal itu cukup jitu untuk menutup percakapan selanjutnya. Karena mereka pada umumnya gak tau soal kelinci.

Namun dari interaksi gue yang minim itu, ada satu yang menarik dan menjadi hal yang tidak akan gue lupakan. Ceritanya gue sudah menunggu kedatangan bu dokter cukup lama. Di samping gue, duduk seorang perempuan muda, awal 20-an. Dia membawa kucing tipe Persia berwarna krem. Pada awalnya anak muda ini asik dengan smartphonenya. Mungkin lama-lama jengah juga, ya. Lalu mulai tengak-tengok ke kandang Tamtam. “Oh, kelinci! Aduh..lucu! Saya dulu juga punya kelinci…. ” Dan bla-bla-bla.

Hingga akhirnya dia bercerita tentang temannya yang memelihara ular Boa. Ular ini demikian disayang – bahkan diajak tidur di tempat tidur yang sama! Hingga suatu ketika temannya ini membawa si ular ke dokter karena sudah beberapa hari tidak mau makan. Dan setiap akan tidur, si Boa tidak melingkar seperti ular pada umumnya. Malah memanjang-manjangnya dirinya ke atas. Kayak stretching gitu deh. “Dan ternyata kata dokternya,” lanjut si mbak, “ular itu tidak makan karena sedang mengosongkan perutnya. Dan dia memanjang-manjangkan badannya karena untuk mengukur badan temanku itu!” “Apa!!” kata gue seraya membelalak ngeri mendengarnya (biar lebih dramatis, bayangkan kamera menyorot wajah gue. Zoom in, zoom out, zoom in lagi, zoom out lagi. Persis kek sinetron India). “Jadi,” lanjut si mbak, “ular itu memanjangkan badannya untuk mengukur apakah temanku ini akan muat kalok dia telan.”  Akhirnya karena terlalu berisiko si kawan itu memberikan ularnya kepada orang lain. Happy end. Tapi moral storinya: kenali hewan piaraanmu! Sebelum dia memanjang-manjangkan badan…

Cipih.20150207_190637~2[1]

Cipi tau-tau memanjang-manjangkan badannya juga! Hiii….

Pengalaman lainnya yang menarik adalah ketika seorang pemuda datang sambil menggendong French bulldog yang terengah-engah hebat dan dengan volume yang kencang. Di belakang si anak muda seorang perempuan tua mengikutinya, mungkin ibu si pemuda, membopong keset handuk yang ternyata berisi 2 anak anjing baru lahir! Si pemuda itu tampak bingung. “Tolong dok, ini anjing baru melahirkan. Sudah lahir 3. Yang satu mati. Tolong dok, dicek. Siapa tau masih ada di dalam.”  Dokter segera membuka ruang perawatan yang kosong. Gue mendengar si pemuda menelpon seseorang. “Iya, dia napasnya kencang banget! Nih, lu mau dengar?!” Gue langsung menyimpulkan: itu bukan anjingnya. Tapi anjing abangnya. Abangnya kayaknya lagi ke luar kota atau ke luar negeri. Dan si adik dan emak yang ketiban pulung untuk jadi bidan dadakan.

Tidak lama kemudian, Tamtam dipanggil masuk ke ruang perawatan sebelahnya. Melalui pintu penghubung antar-kamar, gue bisa melihat si French bulldog yang lagi diinfus. Baru kali itu gue melihat French bulldog (selama ini cuman di film). Dan gue langsung jatuh cinta sama tipe anjing ini. Maniiiiiis sekali mukanya… Tapi romantisme gue langsung menguap seketika tatkala si pemuda menongolkan kepalanya ke ruang dimana gue berada, berseru dengan muka sumringah dan nada ceria. “Eh…kelinci! Lucu, banget!” Gue langsung pasang tampang bete. Eh plis deh! Jangan lacak-lucuk kek gitu! Urus dulu tuh si emak bulldog!

Cerita sedih juga ada. Pada hari yang sama dengan cerita soal ular Boa di atas, nah beberapa jam sebelumnya, satu keluarga masuk ke klinik. Ibu, ayah (sambil membawa selimut berdakron warna-warni pastel, dan dua anak perempuan. Gue tebak si anak yang paling besar usia 15-17 tahun. Sementara si adik berusia 10-12 tahun atau masih SD. Rupanya mereka akan menjenguk anjing golden retrivernya yang sedang “emergency”. Resepsionis mempersilakan mereka untuk langsung ke bagian rawat inap. Sekitar 1 jam kemudian, gue melihat kembali keluarga itu. Pertama-tama si anak usia SD. Matanya merah berair dan dia sesegukan menahan tangis. Di belakangnya sang kakak, dengan keadaan yang sama. Perut gue langsung mulas… Di belakang mereka, sang ayah membopong sesuatu dalam balutan selimut berdakron warna-warni pastel. Tatapan mata ayah kosong. Ibu menyusul kemudian. Segera membayar administrasi. Kami yang sedang duduk di ruang tunggu langsung terdiam…

20150207_145004~2[1]

Sebenarnya sih gue nggak masalah bolak-balik ke klinik untuk memeriksakan si Tamtam. Namanya juga demi anak. Tapi masalahnya gue harus merelakan waktu tidur pagi (lanjutan) jadi terpotong. Jadi nak, cepat sembuh ya. Biar ‘makmu ini bisa puas leyeh-leyeh di Sabtu pagi.

Nggak Jelas

25 Januari 2015

“Jangan membakar massa, mengajak rakyat, membakar rakyat. […] suatu sikap pernyataan yang kenak-kanakan. Berdiri sendiri, kuat dia. Konstitusi yang akan dukung, bukan dukungan rakyat yang nggak jelas itu”. (Menkopolhukam di Istana Kepresidenan, Sabtu 24 Januari 2015).

Jumat 23 Januari 2015 bukanlah TGIF-rutin-tenang- seperti biasanya. Menjelang siang, telepon genggam gue berbunyi. Info yang disampaikan singkat. “Bambang Widjayanto ditangkap!”

Gue segera menge-cek detiknews. Berita penangkapan sudah ada, namun tidak ada disebutkan alasan penangkapannya.
Sambil makan siang, gue menge-cek gadget dan mendapatkan poster seruan untuk berkumpul di gedung KPK setelah shalat Jumat atau pukul 13:00 wib, sebagai bentuk dukungan kepada KPK. Gue tunjukkan poster itu ke rekan-rekan sesama buruh yang saat itu kebetulan satu meja saat makan siang. Tanggapan mereka menakjubkan! Dengan segera mereka memutuskan untuk pergi ke gedung KPK. Kebetulan gedung tersebut terletak di seberang pabrik kecil tempat kami bekerja. Gue sendiri memutuskan untuk tidak berangkat.

Pulang dari gedung KPK, rekan-rekan tadi kembali bekerja seperti biasa. Namun ketika bubaran pabrik, pembicaraan seputar upaya-upaya penggembosan KPK kembali bergulir. Seorang teman yang bernama Asal Kena (namanya memang demikian), berkata. “Kalau tidak ada KPK, apa lagi yang bisa mengawasi pemberantasan korupsi?” Pertanyaan dan pernyataan keprihatinan yang menguap di udara sore mendung, karena gue dan seorang teman hanya dapat terdiam.

Karena itulah gue sangat terusik ketika esok harinya, di efbe, seorang kawan membagikan tautan berita tentang ucapan Menkopolhukam di atas. Nggak jelas! Apa yang dimaksud dengan nggak jelas? Apakah 1) kami rakyat yang nggak jelas, atau 2) kami rakyat yang nggak jelas mendukung apa?

Jika kami rakyat yang nggak jelas, maka hal ini perlu diluruskan. Kami sangat jelas. Kami bukan hantu blau atau hantu gentayangan yang sekedar memadati KRL setiap pagi dan kemudian bikin macet Jakarta. Kami punya identitas yang jelas. Minimal kami punya KTP. Teman-teman yang ikut mendukung ke gedung KPK itu bahkan punya Kartu Keluarga, punya SIM (mobil dan/atau motor), punya paspor, punya kartu BPJS, punya NPWP. Kami bayar pajak. Minimal bayar PBB dan Pajak Penghasilan, selebihnya bayar pajak saat belanja. Untuk kasus gue, bahkan gue bayar pajak tiap kali beli rokok. Kami ini bukan cuma bijak karena taat bayar pajak, namun juga dengan kesadaran dewasa, kami membayar pajak karena paham pajak itu digunakan untuk pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia. Tanpa perlu bergantung lagi pada dana hibah atau utangan negara-negara lain atau bahkan dari CSR abal-abal kapitalis yang hanya perlu karpet merah untuk ekspansi perusahaannya. Jadi sangat jelas kalau kami adalah masyarakat yang jelas. Kalau nggak jelas, gimana kami bisa punya kartu kredit dan lalu ngutang? Paling yang nggak jelas kapan lunasin kartu kreditnya. Hingga petugas kartu kredit harus nelpon. Namun, kalau kami nggak jelas, mau kemana si petugas nelpon (atau menteror) kami untuk menagih tunggakan bayaran?

Jika kami rakyat yang nggak jelas mendukung apa, maka hal ini juga perlu diluruskan. Kami jelas-jelas mendukung salah satu calon presiden dan wakil presiden saat kampanye dan pilpres yang lalu. Walaupun secara detil alasan dukungan kami mungkin berbeda satu sama lainnya, namun secara garis besar yang mendasar, kami jelas alasannya mengapa memilih yang satu itu. Alasan yang juga adalah perjuangan kami. Dan kami jelas-jelas kami tetap kritis terhadap setiap dinamika yang jelas-jelas terjadi di ranah politik sesudah pemilu. Sehingga ketika jelas-jelas terjadi upaya penggembosan KPK seperti ini, jelas… kami langsung melakukan aksi untuk menyatakan perjuangan kami! Kami rakyat kelas buruh yang dengan segala kedewasaan cara berpikir kami, sudah terbakar dengan sendirinya ketika melihat praktek-praktek tidak benar yang jelas-jelas dipampangkan di hadapan kami. Dan kami tidak akan duduk manis diam seraya sesekali mengeluhkan situasi atau menyalahkan orang-orang, sambil sharing-sharing via fesbuk tautan berita – hanya karena tidak tau mau ngomong apa tapi perlu bagikan sesuatu karena ini lagi trending topik yang cool – atau bagi-bagi tautan hanya karena gak bisa punya pendapat sendiri.

Kami jelas-jelas punya pendapat. Kami berjuang, kami bergerak, kami menyatakan sikap! Dan karena itu kami ada!

*kalaupun ada yang GJ alias gak jelas, ya cuma tulisan ini… Jelas, kan? 

20150125_082121[1]

Foto diambil dari Kompas Minggu 25 Januari 2015. Dimana terfoto (“ter”, ya, alias gak sengaja) ada salah satu kawan kerja yang tidak punya passion dalam bekerja, namun langsung bergerak ke KPK begitu dapat info untuk kumpul di gedung KPK. Dia memang salah satu rakyat yang gak jelas…

Kabinet

1 November 2014

Akhirnya Presiden mengumumkan kabinetnya! Lebarnya 50 cm dengan tinggi 1,8 meter. Warna coklat berpelitur alami. Eh salah! Bukan kabinet alias lemari, tapi ini kabinet alias jajaran para menteri!

Jumlah para pembantu presiden untuk periode 2014 – 2019 adalah 34 orang. Perempuannya berjumlah 8 orang atau sekitar 23,5%. Yang cukup membanggakan, baru kali ini Menteri Luar Negeri dijabat oleh seorang perempuan.

Profil Pendidikan

Dari 8 orang tersebut, 3 orang mencapai pendidikan S3 atau setara S3. Super speliasis untuk pendidikan medis setara S3, kan? Dua orang menempuh pendidikan S2. Dua orang menamatkan pendidikan S1. Dan 1 orang tidak menamatkan SMA.

Dari 8 orang tersebut, sebanyak 5 orang mengenyam pendidikan di luar negeri. Yaitu di Kanada, Amerika, Belanda, Jepang, dan Australia. Tiga yang lainnya menempuh pendidikan hanya di dalam negeri.

Profil Kepartaian

Kurang dari setengah atau hanya 3 orang menteri perempuan itu pernah atau masih aktif di partai politik. Ketiga orang itu pernah atau masih di PDI-P, Partai Nasdem, dan PKB / PPP. Namun hanya 2 orang yang pernah menjadi anggota DPR RI.

Profil Profesi

Profesi dan jabatan yang pernah diemban oleh mereka adalah sebagai berikut: wiraswasta, duta besar karir, sektor swasta, dokter, dosen, anggota DPR, menteri, politisi purna waktu.

Profil Usia

Nah ini dia yang menarik. Paling tua lahir di tahun 1949, alias 65 tahun. Beliau sekaligus menjadi menteri dengan usia paling senior di kabinet ini. Disusul 1956, 1958 (dua orang), 1962, 1965 (2 orang), dan yang paling muda berusia 1973 alias berusia 41 tahun saat yang bersangkutan menjabat sebagai menteri. Dan dia menjadi menteri yang paling muda. Lebih muda 2 bulan dari Menteri Pemuda dan Olahraga yang lahir di tahun yang sama.

Profil Kepribadian

Confirmed: dari 8 orang itu hanya 1 yang merokok di depan publik dan dinyatakan memiliki tato. Dan tindakannya yang merokok sambil diwawancarai tidak lama sesudah dirinya dikenalkan oleh Presiden sebagai calon menteri, kontan menuai keprihatinan hingga kecaman. Apakah itu karena memang merokoknya atau karena dia seorang perempuan?

 

Rully

15 Oktober 2014

“Sahabat adalah pemenuhan kebutuhan jiwa. Dialah lading hati yang kau taburi dengan kasih dan dituai dengan rasa terima kasih. Sahabat adalah naungan sejuk keteduhan hati dan api unggun kehangatan jiwa, karena akan dihampiri kala hati gersang kelaparan dan dicari saat jiwa mendamba kedamaian”. (Kahlil Gibran – Sang Nabi)

Dan gue bersyukur sekali karena memiliki beberapa sahabat dengan kualitas seperti itu. Mereka lah yang menemani serta mewarnai perjalanan hidup gue dan turut berkontribusi terhadap perkembangan pribadi gue.

Salah satu sahabat tersebut adalah Rully. Gue mengenal Rully saat gue masih kuliah, sementara dia sudah lulus kuliah. Jadi gue tidak pernah tau apakah Rully ini seperti abang seseorang yang rajin dan senang belajar. Dengan menyandang tas di bahu, riang menuju sekolah.

Gue pertama kali melihat Rully di sebuah sarana umum di Bandung yang saat itu secara rutin gue kunjungi. Wajahnya yang terlihat murung, menarik perhatian gue. Hingga suatu hari, di tempat yang sama, gue melihat pengunjung yang lain berkerubung di sebuah bangku. Dengan kepo tingkat tinggi, gue dekati kerumunan itu. Lho, ternyata si wajah murung itu tergeletak pingsan. Dengan basa basi manis, gue tanya ke salah seorang yang sedang mengipasi si wajah murung. “Kenapa dia?” “Pingsan!” Eaelah! Kirain lagi makan bubur ayam…

Beberapa hari kemudian si wajah murung muncul kembali. Gue mengambil inisiatif untuk mendekati dia dan menyapa dengan sopan. ”Hei. Kamu yang waktu itu pingsan kan?” Pertanyaan itu dijawab dengan cekikikan tertahan yang dilanjutkan dengan uluran tangan dan pertanyaan bersahabat. “Kamu siapa? Saya Rully.” Dan sejak saat itu, gue tidak pernah lagi melihat wajah murungnya. Dia ternyata adalah anak yang – meskipun tanpa tas di bahu – riang gembira. Setelah semakin akrab, akhirnya gue paham mengapa waktu itu dia selalu bermuram durja dan sampek pingsan segala.

Sejak perkenalan itu, Rully menjadi bagian yang mengawali hari-hari gue. Dia laksana sarapan pagi yang tak boleh terlewatkan. Setelah bertemu di sarana umum tersebut, kerap kami menyantap nasi kuning sambil ngecengin orang-orang bersepeda yang melintas di hadapan kami. Setelah itu, kegiatan selanjutnya adalah membelah pemakaman Pandu yang senyap sambil berbagi cerita. Ngapain membelah kuburan? Cari pesugihan? Etdah! Kami tuh cari jalan pintas untuk ke jalan Terusan Pasteur. Dari situ, Rully lanjut ke rumahnya dan gue lanjut ke kontrakan.

Di hari Minggu, durasi pertemuan kami pasti lebih lama. Apalagi karena kami berbaur dengan kawan-kawan yang lain. Rully bukan tipe orang yang senang mencari perhatian. Namun dia selalu menjadi menjadi pusat perhatian karena percaya diri, ceria, dan selalu melontarkan komentar-komentar kocak.

Selain ketemu dan ngobrol di kota Bandung, kami juga melakukan perjalanan ke kota-kota lain. Cirebon, Kuningan, Garut, Jogjakarta, Surabaya, Pasuruan, Malang, Kertosono, Kediri. Bahkan hingga mendaki ke puncak Bromo dan menikmati matahari terbit dari sana. Wetssss, ternyata keren juga ya destinasi kita saat itu.

Namun pada akhirnya tahap kehidupan jualah yang memisahkan kita. Gue lulus kuliah di Bandung dan memutuskan kembali ke ibukota Negara untuk melanjutkan kuliah. Namun komunikasi kami tidak putus. Dari mulai dari snail mail, telepon interlokal 021 ke 022, hingga ke era cellular phone – era 081 sekian ke 081 sekian. Namun jarak jualah yang membatasi intensitas komunikasi kita. Dan pada akhirnya membuat pola komunikasi gue terhadap dia berubah.

Perubahan itu juga menyebabkan banyak dinamika hidup gue yang tidak tersampaikan ke sahabat satu itu. Ada berbagai alasan, namun yang utama adalah kekawatiran bahwa dia akan mencampakkan persahabatan yang sudah terjalin. Hingga ketika akhirnya gue putuskan untuk menyampaikan hal itu, dia tampak kecewa. “Kenapa tidak dari dulu kamu bilang? Kok kamu nggak berpikir kalo aku akan dapat mengolah hal itu?” Gue terdiam. Menyesal telah meragukan kedewasaan intelektualitas dan emosinya.

Sama seperti lagu Halo Halo Bandung yang mengatakan bahwa sudah lama beta tidak berjumpa dengan kau, maka seperti itulah gue dengan Rully. Gue sudah lama tidak ke Bandung untuk berjumpa dengan Rully. Dan payahnya, tahun ini gue lupa untuk mengucapkan selamat ulang tahun tepat di harinya. Gue baru ingat sehari setelahnya! Dengan malu-malu gue mengirim sms (Rully mengatakan bahwa dia sudah cukup dengan telepon genggam biasa, tidak perlu pakai smart phone). “Rul, sori terlambat mengucapkan selamat ulang tahun…Ke-46”. Dijawab dengan, “Gpapa terlambat yg penting bisa tepat menyebut usia 46 th, trims ya.” Dan yang lebih bikin malu, besoknya dia menelpon gue! Kami lalu berbincang panjang lebar. Hingga akhirnya dia berkata,” Jadi kapan kamu mau ke Bandung? Aku mau lihat tuanya kamu!”

Ucapan terakhir Rully gue sambut dengan tawa campur haru. Dia ingin melihat gue di usia yang kian tua. Separuh usiaku, aku lalui bersama dia. Seorang sahabat yang setia dan menerima tanpa pamrih segala perubahan di diri gue.

Selamat ulang tahun, Rully! Mari kita bertumbuh tua bersama.

Piglet n Pooh

%d blogger menyukai ini: